![]() | |
Saturday, 9 September Loves: pizza, nailcutter, novels, anything black and mint, spice of black pepper, saturday, silence. Hates: clown, pinneapple, comics, yellow, spice of chili, fishy things, insomnia. Oh, and LARON, whatever it fking-named.
|
|
Layout: vehemency |
|
|
Lord of The Shadows
Thursday, 18 September 2008, 05:17:00
*SPOILER WARNING! Saya males ngewarna-warnain tulisan biar ga keliatan, jadi kalo tidak mau mengetahui jalan cerita DS yang bisa saja merugikan anda, silahkan sekrol aja blognya ke bawah-bawah ya--ngusir mode ^^* Salam Charna! Kemarin adalah hari baik bagi saya. Kenapa? Karena~ Jengjerereng~ Saya telah selesai membaca buku Darren Shan: Lord of the Shadows dalam jangka waktu kurang lebih dua jam, hahahaha. Titik kesenangan saya bukanlah dari kecepatan saya membaca (karena biasanya saya tuh kalo baca buku suka bersambung alias dilanjutin), melainkan karena saya sangat menyukai buku ini. Ya, dan itulah yang membuat saya sangat penasaran dengan kelanjutan ceritanya, dan terus membaca buku ini sampai habis ^^ ![]() Saya tidak akan memberitahukan jalan cerita buku ke-11 ini secara keseluruhan, tapi saya akan mengutarakan perasaan saya mengenai bagian-bagian buku ini yang sangat saya sukai. Sekali lagi spoiler warning, jadi jangan salahkan saya kalo anda-anda menjadi korban spoiler (saya sebenarnya juga merupakan korban spoiler loh, dari Wikipedia). Berikut adalah hal-hal yang saya sukai dari buku ini: 1. Kembali ke 'rumah' Yeap, Darren kembali ke kota dimana semula ia menghabiskan masa kanak-kanaknya. Di kota inilah sandiwara kematian Darren juga terjadi. Saya paling seneng ketika Darren ngunjung-ngunjungin tempat yang dulu sering dia datengin. Termasuk orang-orangnya. Ada kakeknya Alan, Mr Dalton, Tommy, dan bahkan Annie! Rada sedih juga, soalnya di sini tempat awal mulanya kenapa Darren jadi manusia setengah-vampir. 2. Pembunuhan-pembunuhannya Sadis pisan! Walaupun kata Vina buku 10 (The Lake of Souls) juga sadis--merujuk ke Spits Abrams yang seorang pelaut-pemabuk kanibal, yang saya curigai juga mirip dengan Baha di PPT--tetapi ga sesadis buku 10. Oke, mungkin taraf sadisnya ga kayak di IH alias ’usus terburai’, ’otak tercecer’. Tapi cukup mengerikan karena terlihat bener-bener 'lepas' gitu loh. Sesaat saya jadi teringa dengan Ralph K. Latimer, salah satu character di IH. Pembunuhan pertama di buku ini adalah tentang Tommy Jones. Tommy ditusuk di bagian dada dengan tangan berkait emas yang dimiliki R.V. Yang dimana pada saat kejadian itu, sehabis pertandingan semifinal (Tommy jadi kiper), Tommy tukeran baju sama kiper lawan dan belum beranjak pergi dari lapangan. Bayangin aja, lagi asik-asiknya jalan berdua, ditusuk tanpa ada apa-apa. Pembunuhan kedua, Morgan James (yang sebelumnya ngebunuh Mr Tall). Hohohoho, ini yang ngebuat saya keinget sama Latimer. James dibunuh oleh Harkat, dengan kepala sebagai sasaran utamanya. Yeah, Harkat ngelempar kapaknya ke arah kepala James daaaaan, seketika kepalanya langsung bergelinding di tanah, terlepas dari tubuhnya. HOHOHO! Pembunuhan ketiga, Shanchus Von. Inilah yang paling saya suka, dan akan dijelaskan pada 'poin' ke-4. Kepala juga sasarannya--tepatnya leher, oleh Steve, dengan tangan kosong! Alias Steve ngebunuh Shancus pake tangannya sendiri, tanpa pancang, bambu runcing, atau apapun yang dijadiin senjata. Mau tau gimana caranya? Steve ngeraih kepalanya Shancus erat-erat, dan muter kepalanya ke kiri dan ke kanan. Beugh, dan siapa yang tau kalo ternyata lehernya itu patah? 3. Silsilah keluarga Dan seperti yang udah saya kasih tau sebelumnya, bahwa saya adalah korban spoiler juga. Rada garing aja pas ngeliat Annie ternyata punya anak, dan tiba-tiba ada bocah bernama Darius yang muncul di Cirque. Saya udah tau kalo Darius Shan itu anaknya Annie, adiknya Darren, hahaha, makanya perut saya bergejolak (halah!). Tapi saya suka penjabarannya di buku ini. Awalnya saya kira Darius itu ya jadi anaknya Annie dan Steve dengan hubungan yang normal-normal aja, tanpa ada sangkutpautnya sama pengaliran darah, vampaneze, vampir, bla bla. Dan saya paling suka sama kata terakhir Steve di bukunya: "kalau kau membunuh Darius, kau tidak hanya membunuh putraku--kau bakal membunuh keponakanmu sendiri!" 4. Permainan tantangan Ini yang ngebuat saya sengaja stuck di ending bab 21. Jadi Darren dan Steve, di dua kubu itu saling nurunin senjata masing-masing, dan mulai nyerahin 'sandra' yang berupa Shancus dan juga Darius. Berikut cuplikan bukunya yang saya singkat-singkat, hehe: "Ingat permainan yang kita mainkan waktu masih kecil dulu?" tanyanya culas. "Permainan tantangan," kata Steve, dan sesuatu dalam suaranya membuat R.V. dan Gannen berhenti dan menoleh. Wajah Steve tanpa ekspresi, tapi matanya menari-nari dengan kesenangan sinting. "Salah satu dari kita akan berkata, 'kutantang kau melakukan ini,' dan mengulurkan tangan ke api atau menusukkan jarum ke kakinya. Yang lain harus mengikutinya. Ingat?" "Aku menantangmu untuk melakukan ini, Darren," Dan Stevepun membunuh Shancus! 5. Ending gantung Saya pernah nulis di status Y!M, kalo saya tuh sebenernya benci sama ending gantung. Tapi justru ending gantung itulah yang ngebuat saya makin cinta dan setia dengan ini buku, hoho. Yah, sampe sekarang, sampe buku 11 maksudnya, masih belum dijelaskan secara rinci siapa yang sebenernya jadi Penguasa Kegelapan. Apakah Darren, atau Steve? Saya rasa sih kalo Darren ternyata bakal ngebunuh Darius, dia yang bakal jadi Penguasa Kegelapan. Tapi kan endingnya ngegantung, huhu T_T Oke, that's all. Intinya saya cinta Steve Leopard! :X *ditimpuk* Labels: darren shan |
|